Semen Padang Harus Kembali Jadi Kebanggaan Ranah Minang

25
COO Danantara Dony Oskaria saat bertemu dengan jajaran direksi serta karyawan PT. Semen Padang saat berkunjung ke Pabrik Semen tertua di Indonesia.(foto:dok)
Padang,92news.id – Langkah Dony Oskaria memasuki kawasan PT Semen Padang bukan hadir lalu pergi. Bagi pria yang kini menjabat COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, kunjungan itu terasa seperti pulang ke ruang kenangan. Tempat yang dulu menjadi simbol kebanggaan ekonomi Sumatera Barat.
Putra asli Tanjuang Alam, Kabupaten Tanah Datar, itu berdiri di hadapan ratusan karyawan dengan nada bicara tegas, namun sarat kegelisahan. Ia mengaku, pertemuan itu menjadi momen pertama dirinya bertatap langsung dengan seluruh keluarga besar Semen Padang.
“Kesempatan ini pertama kali saya bertemu dengan seluruh karyawan Semen Padang. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman sekalian,” ujar Dony membuka arahannya.
Transformasi Harus Sampai ke Level Perusahaan
Menurut Dony, Indonesia tengah memasuki fase transformasi besar, bukan hanya di lingkup BUMN, tetapi juga dalam tata kelola negara secara menyeluruh. Ia menegaskan perubahan tersebut harus dirasakan hingga ke tingkat perusahaan.
“Transformasi ini tentu harus sampai kepada level perusahaan. Kita ingin perubahan yang fundamental, bukan lagi di level artificial,” katanya.
Ia menyebut, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, arah pembangunan nasional kini difokuskan pada pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Karena itu, BUMN yang didalamnya termasuk Semen Padang harus menjadi bagian penting dari perubahan tersebut.
Kegelisahan terhadap Kondisi Sumatera Barat
Di tengah paparannya, Dony secara terbuka menyampaikan kegelisahannya terhadap kondisi kampung halaman. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai pengkritik paling keras Sumatera Barat, justru karena rasa cintanya yang besar.
“Saya termasuk pengkritik Sumatera Barat paling keras, karena saya paling cinta sama Sumatera Barat,” ujarnya.
Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi daerah yang dinilai tertinggal. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat hanya berkisar 3,3 hingga 3,5 persen, sementara inflasi mencapai sekitar 6 persen.
“Itu artinya terjadi pemiskinan terstruktur setiap tahun. Pendapatan naik tiga persen, tapi biaya hidup naik enam persen,” katanya.
Dony mengingatkan bahwa kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia menilai Semen Padang memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
“Kita di Semen Padang punya PR besar untuk menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat,” tegasnya.
Ia juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu, ketika Sumatera Barat pernah menjadi rujukan pendidikan dan ekonomi di Sumatera. Kini, menurutnya, sejumlah daerah lain justru melampaui capaian ekonomi Ranah Minang.
“Dulu Sumatera Barat menjadi acuan. Sekarang PDRB Jambi sudah jauh lebih tinggi, Riau apalagi,” ujarnya.
Kritik Sosial dan Ajakan Introspeksi
Tidak hanya ekonomi, Dony juga menyinggung berbagai persoalan sosial yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari penyebaran narkoba hingga menurunnya kualitas lingkungan dan peradaban sosial.
Ia menyampaikan kritik tersebut bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai bentuk refleksi bersama masyarakat Minangkabau.
“Mau jadi apa Sumatera Barat ini? Ini kegalauan saya yang lama saya tahan,” katanya.
Menurutnya, nilai-nilai filosofi Minangkabau yang dahulu kuat kini harus kembali dihidupkan dalam kehidupan sosial masyarakat.
Mengembalikan Kebanggaan Semen Padang
Dalam kesempatan itu, Dony juga menyoroti kondisi fasilitas perusahaan yang dinilainya perlu segera dibenahi. Ia menegaskan bahwa perusahaan tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata, tetapi juga pada kebanggaan dan warisan yang ditinggalkan.
“Saya tidak mau lagi melihat rumah tidak terurus, GOR berantakan. Orang datang ke sini harus bangga menjadi bagian dari Semen Padang,” ujarnya.
Ia meminta manajemen bekerja dengan hati dan profesionalisme, agar perusahaan kembali menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumatera Barat.
“Kerjalah dengan hati. Kerja untuk sesuatu yang bisa kita wariskan dalam kondisi baik, bukan kita tinggalkan dalam keadaan jelek,” pesannya.
Bagi Dony, Semen Padang bukan sekadar perusahaan semen. Sejak dulu, hampir setiap kegiatan besar di Sumatera Barat selalu bermuara pada perusahaan tersebut.
“Kalau Sumatera Barat ada kegiatan apa pun, ujung-ujungnya Semen Padang. Betul nggak?” katanya, disambut anggukan para karyawan.
Di akhir arahannya, pesan itu kembali ia tegaskan: Semen Padang harus bangkit, bukan hanya demi perusahaan, tetapi demi masa depan Ranah Minang.
Sebab baginya, kebangkitan Semen Padang adalah bagian dari kebangkitan Sumatera Barat itu sendiri. (3G)