Nevi Zuairina Dorong Hilirisasi Aluminium Nasional Berbasis Kemandirian Industri dan Ketahanan Energi

66
Anggota DPR RI Fraksi PKS Nevi Zuairina saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke Pontianak pada medio Februari 2026.(foto:dok)

Jakarta,92news.id — Anggota DPR RI Fraksi PKS, Hj. Nevi Zuairina, menegaskan pentingnya memastikan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, benar-benar menjadi fondasi hilirisasi industri aluminium nasional, bukan sekadar proyek pengolahan bahan mentah.

Pernyataan ini disampaikannya dalam rangka Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke Pontianak pada medio Februari 2026 yang membahas operasional smelter alumina dan penguatan ekosistem industri tambang nasional.

Menurut Politisi PKS ini, keberhasilan proyek SGAR harus diukur bukan hanya dari volume produksi alumina, tetapi dari kemampuan proyek ini mendorong tumbuhnya industri turunan aluminium di dalam negeri.

Nevi menilai, Indonesia telah memasuki fase penting transformasi dari negara pengekspor bahan mentah menuju negara industri bernilai tambah tinggi. Karena itu, sinergi antara BP BUMN, Antam, Inalum, PT Borneo Alumina Indonesia, dan pengelola kawasan industri menjadi sangat krusial agar hilirisasi berjalan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam kunspek tersebut, Legislator asal Sumbar II ini menekankan perlunya sinkronisasi pendanaan antar fase proyek, penguatan ketahanan pasokan bahan baku, serta keberpihakan pada prioritas kebutuhan domestik sebelum ekspor.

“Strategi mitigasi risiko terhadap fluktuasi harga alumina global sangat penting agar keberlanjutan proyek tetap terjaga secara finansial dan tidak hanya bergantung pada siklus komoditas dunia,” tutur Kapoksi VI FPKS ini.

Selain itu, Nevi memberi perhatian khusus pada aspek energi. Ia menilai keberlangsungan industri alumina dan aluminium sangat bergantung pada jaminan ketersediaan listrik yang stabil selama 24 jam, dengan tarif kompetitif agar produk nasional mampu bersaing di pasar global.

“Ketika industri sudah berjalan, listrik tidak boleh menjadi titik lemah. Pasokan energi harus pasti, berkelanjutan, dan mendukung efisiensi biaya produksi,” ujarnya.

Tak kalah penting, ia mendorong pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, terutama terkait limbah red mud, serta percepatan transfer teknologi agar tenaga kerja Indonesia mampu menjadi operator utama industri pengolahan mineral strategis tersebut.

Nevi juga menilai Kalimantan Barat memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan kawasan industri aluminium terpadu yang melibatkan UMKM, tenaga kerja lokal, dan sektor pendukung lainnya.

Di akhir pernyataannya, Nevi Zuairina mengajak semua pihak menjadikan proyek SGAR sebagai momentum besar bagi kemandirian industri nasional.

“Kita tidak boleh berhenti di alumina. Target akhirnya adalah industri aluminium nasional yang kuat, mandiri, dan mampu menjadi bagian dari rantai pasok global, termasuk untuk kebutuhan energi masa depan dan kendaraan listrik,” tutup Nevi Zuairina.