Menjaga Hutan, Menjual Pengalaman: Cerita Dibalik Orchid Forest Cikole Bersama Palawi Risorsis

15
Orchid Forest Cikole Lembang, Jawa Barat.(foto:dok)
Lembang,92news.id – Kabut tipis turun perlahan di kawasan Lembang. Udara lembap bercampur aroma pinus tua yang ditanam sejak 1971. Di antara tegakan yang menjulang itulah Orchid Forest Cikole berdiri, sebuah ruang temu antara konservasi dan wisata.
Kawasan ini tumbuh dari kemitraan yang saling melengkapi: perusahaan umum Kehutanan Negara Indonesia (Perhutani) sebagai pemegang otoritas hutan negara dan Perhutani Alam Wisata (Palawi) Risorsis sebagai pengelola wisata, bersama Orchid sebagai konsep destinasi berbasis anggrek serta forest healing sejak 2018.
Perhutani Menjaga Tekanan
Perhutani memegang peran fundamental. Mereka memastikan hutan tetap berdiri. Pohon tidak boleh ditebang sembarangan. Penebangan hanya dilakukan jika membahayakan keselamatan pengunjung.
Curah hujan tinggi dan cuaca tak menentu menjadi tantangan tersendiri.
“Pada Januari lalu, 32 pohon roboh akibat angin kencang. Namun setiap pohon yang tumbang segera diganti. Penanaman ulang dilakukan menggunakan hasil persemaian yang telah kami kelola,” ujar Manajer Cluster Lembang, Sumarsono didampingi SPV Pemasaran dan Relasi Dadan Hamdan pada Kamis, (12/2/2026) di Lembang.
Setiap tahun, kemitraan itu juga dikontrol. Maksimal 10 persen dari luas lahan boleh dimanfaatkan untuk bangunan. Selebihnya harus tetap menjadi ruang hijau. Hutan bukan sekadar latar foto, melainkan fondasi kawasan.
Palawi Mengelola Irama Wisata
Di sisi operasional, Palawi mengatur tata kelola agar selaras dengan aturan kehutanan. Manajer cluster, Sumarsono, membawahi 23 destinasi wisata di Kabupaten Bandung Barat, Sumedang, dan Bandung.
Di Orchid Forest sendiri, sekitar 150 karyawan bekerja setiap hari menjaga kebersihan dan layanan. Sebanyak 25 pengawas memastikan operasional berjalan sesuai standar. Model ini menunjukkan bahwa wisata dapat tumbuh tanpa menggerus hutan.
“Secara keseluruhan di Pulau Jawa, Palawi mencatat keuntungan Rp39 miliar pada 2025, meningkat dari tahun sebelumnya,” kata Sumarsono.
Angka itu lahir dari sistem yang menjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi.
Orchid Menawarkan Pengalaman
Sementara itu, Orchid menghadirkan daya tarik emosionalnya. Sekitar 12 hektar kawasan dihiasi ribuan anggrek yang menyatu dengan tegakan pinus. Udara bersih dan suasana rimbun menjadi nilai jual utama.
Saat akhir pekan, 2.000 hingga 3.000 orang datang menikmati kawasan ini. Pada hari biasa, sekitar 500 pengunjung hadir. Turis dari Malaysia dan Singapura pun rutin berkunjung. Jam operasional dibuka pukul 10.00–19.00 pada hari biasa dan 08.00–19.00 saat akhir pekan.
Seorang pengunjung, Cimon dari Sumatera, menggambarkan kesannya sederhana.
“Asri dan bersih. Cocok untuk seluruh yang ingin merasakan kehijauan di Indonesia. Pepohonannya pun rimbun, asik lah pokoknya,” ujarnya.
Di tengah perubahan cuaca yang sulit ditebak, kawasan ini terus beradaptasi. Pohon yang roboh diganti. Jalur yang rusak diperbaiki. Pengawasan diperketat. Semua dilakukan tanpa mengurangi satu hal yang paling dicari pengunjung: rasa tenang.
Di sinilah keseimbangan itu diuji setiap hari. Perhutani menjaga tegakan tetap berdiri. Palawi memastikan tata kelola berjalan rapi. Orchid menghadirkan pengalaman yang menyentuh indra. Ketiganya bergerak dalam ritme yang sama.
Dan selama komitmen itu tetap menjadi yang pertama, hijau Lembang akan terus hidup. Bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai pengingat bahwa alam dan ekonomi tidak harus saling meniadakan. *